Rabu, 08 Mei 2013

GOLPUT DAN PEMIMPIN YANG IDEAL


Pemilu yang berlangsung kamis 20 september 2012, serentak dilaksanakan  untuk pemilihan walikota singkawang, gubernur KalBar, dan yang paling fenomenal dan membanggakan pemilu KalBar disandingkan dengan Pemilu Ibu Kota Jakarta sebagai barometer keberhasilan pemilu kepala daerah di Indonesia. Semoga masyarakat KalBar juga  “cerdas” dalam memilih pemimpinnya seperti masyarakat di Jakarta.    
Setiap pertandingan pasti dua predikat yang diperoleh winner or loser. seyogianya  Kandidat yang menang tidak ber euforia “overdosis” sehingga menimbulkan percikan kecemburuan dan menyulut kemarahan kandidat yang kalah. Sangat Apresiatif ketika pidato pertama Jokowi  menanggapi kemenangan versi Quick Count, beliau mengatakan bahwa kemenangannya merupakan kemenangan bersama dan beliau berpesan masyarakat jangan bergembira berlebihan, cukup sujud syukur” ujarnya. Sedangkan kandidat yang kalah haruslah bersikap legowo dan tidak melakukan tindakan yang dapat mencoreng pemilu di KalBar Khususnya.  Jadilah Pemenang  sejati, menang yang tidak membuat lawannya merasa kecewa atau merasa kalah.
GOLPUT BUKANLAH BENTUK “KEZALIMAN” TERHADAP DEMOKRASI
Sungguh sangat tragis apabila Golongan Putih dianggap sebagai orang yang “zalim” terhadap pesta demokrasi dalam pemilu. Apalagi mahasiswa/i dianggap sebagai penyumbang Golput terbanyak.
Menurut saya ada beberapa alasan kenapa Mahasiswa harus Golput.
1.                   Jarak  TPS yang tidak memungkinkan, hal ini yang dirasakan Mahasiswa/i lokasi yang jauh,    karena terdaftar didaerah asalnya dan memerlukan waktu yang lama membuat keengganan mahasiswa/i untuk menggunakan hak suaranya.
2.                   Kesibukan kuliah dan organisasi,  walaupun pada saat pencoblosan ditetapkan hari libur,   segelintir mahasiswa harus mengerjakan tugas kuliah karena dikejar deadline, begitu juga mahasiswa yang super aktif dalam organisasi sehingga tidak memiliki waktu untuk menyumbangkan suarananya.
3.                    Tidak memiliki kartu pemilih.
4.                   Tidak ada pilihan untuk memilih
  Partisipasi politik merupakan  bentuk keikutsertaan masyarakat untuk mensukseskan Pemilihan Umum. Banyak yang dapat dilakukan masyarakat seperti ikut serta memilih/mencoblos, menyediakan TPS, ikut serta dalam perhitungan, memberikan tanggapan atau prediksi merupakan bentuk partisipasi dalam pemilu. Menurut saya pribadi, menilai, menentukan sikap dan memutuskan untuk memilih atau tidak adalah merupakan bentuk partisipasi dalam pemilu. Banyak alasan ketika seseorang harus menjadi GolPut. Salah satunya adalah karena wajah yang di promosikan, diusung partai dan disetujui KPU tidak mempunyai kriteria pemimpin yang diharapkan masyarakat mampu membawa KalBar khususnya lebih baik. Masyarakat berhak menyatakan sikapnya dalam partisipasi politik, hak untuk tidak memilih harus kita hormati, itulah sikap partisipasi politiknya. Menurut saya sikap seperti itu lebih mulia dari pada orang yang mengalami “kegalauan”, memilih pemimpin karena “imbalan” yang telah atau akan diberikan kepadanya, seperti  money politic yang sudah menjadi rahasia umum.
PEMIMPIN BAGAIKAN AYAH UNTUK ANAK-ANAKNYA
saat ini setiap kandidat sudah meramalkan kemungkinan hasil pemilu baik pengumpulan data dari setiap saksinya di TPS atau dari lembaga Quick Count yang ada. siap atau tidak para kandidat harus berlapang dada menerima hasil pemilu.   siapa pun yang duduk di tahta kekuasaan kelak, menjadi kewajiban untuk merangkul semua masyarakat tanpa bersikap diskriminatif.
Dalam buku filsafat politik karangan J.H Rapar, plato mengungkapkan:
The rulers are commanded by God first and fore most that they be good guardians of on person so much as of their own chidren
Artinya: Para penguasa diamanatkan  tuhan pertama-tama dan terutama agar mereka menjadi penjaga yang baik sebaik seperti terhadap anak mereka sendiri.
Penyelenggaran kekuasaan yang dikehendaki oleh plato dalam negara idealnya ialah secara paternalistik, yakni para penguasa yang bijaksana haruslah  menempatkan diri selaku ayah yang baik lagi arif yang dalam tindakannya terhadap anak-anaknya terpadulah kasih dan ketegasan demi kebahagiaan anak-anak itu sendiri. 
Memperlakukan seperti anak sendiri, pemimpin wajib merawat, memelihara, mengasuh, membina, mendidik, mengarahkan dan melindungi setiap warga negara dengan penuh perhatian,penuh tanggungjawab dan kasih sayang. 
saya dapat menyimpulkan pendapat plato bahwa sebagai  pemimpin harus  menjadi ujung tombak menghadapi segala bentuk problematika ditengah masyarakat baik dalam rangka menyelesaikan, menangkal  serta memberikan “stimulasi” agar masyarakat tidak melakukan perbuatan yang dapat  “menodai”  Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
PEMIMPIN “JAHAT” DISEBABKAN SIFAT KEBINATANGAN   
Layaknya hukum rimba, siapa yang kuat, dia yang berkuasa. Tapi sangat tragis jika kandidat yang menang “memakan” yang kalah seperti harimau yang memakan mangsanya.
Dalam buku yang berjudul “Kekuasaan dan Negara karangan A Rahman Zainudin”  Ibnu Khaldun menjelaskan kekuasaan itu adalah suatu hal yang alami bagi manusia karena didalamnya terdapat wujud bermasyarakat dan dipandang dari segi asal kejadiaanya dan kemampuan argumentasinya yang logis, manusia itu lebih dekat pada sifat kebaikan dari pada sifat kejahatan, karena kejahatan itu hanya timbul dalam diri manusia berdasarkan kekuatan-kekuatan kebinatangan yang terdapat dalam dirinya. Apabila dari segi bahwa ia itu manusia, ia lebih dekat kepada kebaikan dan sifat-sifat kebaikan.
Semua Pemimpin manusia  baik, yang tidak baik karena nafsu “hewaninya” mengalahkan hakikat manusia yang pada dasarnya baik. Sebagai pemimpin yang baik tidak “membunuh” yang kalah dalam artian  bersikap “egoisme”,  Lebih memperhatikan basis yang menang dan menganak tirikan daerah-daerah yang tidak mendukungnya. Pemimpin yang baik Merangkul kandidat yang kalah, menjadikan partnership untuk menyelesaikan segudang  pekerja rumah yang harus diselesaikan. Rakyat memimpikan pemimpin yang   tidak hanya menjadikan spanduk visi dan misi nya, tidak hanya menjadikan program kerja sebagai sponsor disaat pemilu, tetapi pemimpin yang bisa membuat gerbakan baru, agar masyarakat benar-benar dapat merasakan “kehangatan” kasih sayang seorang pemimpin.
Janganlah menjadi pemimpin yang mengadopsi sifat “binatang” yang dapat merusak segala aspek kehidupan masyarakat. Jadilah pemimpin yang baik, ulung menyelesaikan berbagai problema  masyarakat yang sangat kompleksitas dan bijaksana dalam memutuskan dan bertindak.    
Kekuasaan dan kewenangan (Power and authority) yang dititipkan kepada para penguasa haruslah dapat merepresentasikan  aspirasi rakyat yang termarginalisasi oleh berbagai kemelut kepentingan (interest).
SENI DALAM MEMIMPIN
Seorang pemimpin tidak hanya dituntut cakap dalam mengobral programnya, bukan hanya dituntut   pandai melaksanakan tugas berdasarkan platform yang dibuat. Tetapi lebih dari itu,  pemimpin  harus memilik gaya dan seni dalam memimpin.
Dalam buku filsafat politik karangan J.H Rapar plato mengatakan bahwa seni memerintah termasuk juga seni membuat undang-undang. Namun yang terutama ialah otoritas penuh tidaklah terletak pada undang-undang melainkan ada manusia yang memahami seni memerintah dan yang memiliki kebijaksanaan.
Maksudnya ialah kendati undang-undang diperlukan untuk kebutuhan praktis, namun undang-undang itu tidak boleh mengikat, membelenggu, dan membatasi keleluasaan gerak seseorang pemimpin untuk mengubah, menambah, ataupun  membatalkan, semua undang-undang yang ada tapi yang telah usang, karena yang paling berwenang bukanlah undang-undang itu sendiri, melainkan penguasa yang benar-benar mengerti tentang akan seni dan ilmu pemerintahan dan yang sungguh-sungguh arif serta bijaksana.
Debat Kandidat CaGub KalBar yang disiarkan Metro tv beberapa waktu lalu, banyak masyarakat yang merasa kecewa terutama masyarakat diperbatasan yang menyaksikan mujadalah kandidat CaGub dengan sangat antusiasme. Para kandidat tidak memiliki planning yang jelas untuk mengatasi masalah seperti infrastruktur diperbatasan yang termaginalkan, kasus pnyeludupan, perdagangan wanita dan sebagainya yang tidak ada kesan keseriusan kandidat untuk menyelesaikannya.
Mujadalah pada saat itu hanya digunakan para kandidat untuk saling menjatuhkan antara yang satu dengan yang lainnya. Tidak ada kecakapan dan seni  yang dilakukan kandidat untuk meyakinkan masyarakat untuk mengatasi masalah perbatasan khususnya yang menjadi salah satu topik mujadalah. Terlihat para kandidat vakum dan terkesan monoton didalam menjawab   dan melontarkan pandangannya. Masyarakat KalBar seperti menyaksikan adegan para wayang yang ceritanya fiktif. para kandidat terlihat tidak memiliki kesiapan untuk “memimpin” KalBar. Visi dan  misi  baik dari incumbent maupun dari penantangnya seperti “anekdot” karena tidak ada kejelasan alur cerita serta tidak memiliki “arti” penting bagi masyarakat KalBar.
Masyarakat perlu pemimpin yang memiliki seni dan strategis jitu untuk menetaskan masalah yang tak kunjung selesai. Kandidat yang terpilih harus lebih memperhatikan masyarakat perbatasan menjadikan daerah perbatasan sebagai garda terdepan  yang selama ini terkesan seperti masyarakat “primitif” dibandingkan  masyarakat perbatasan negara tetangga malaysia yang lebih “modern” dikarenakan   mendapatkan perhatian lebih dari para pemimpinya.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.