Pemilu yang
berlangsung kamis 20 september 2012, serentak dilaksanakan untuk pemilihan walikota singkawang, gubernur
KalBar, dan yang paling fenomenal dan membanggakan pemilu KalBar disandingkan
dengan Pemilu Ibu Kota Jakarta sebagai barometer keberhasilan pemilu kepala
daerah di Indonesia. Semoga masyarakat KalBar juga “cerdas” dalam memilih pemimpinnya seperti
masyarakat di Jakarta.
Setiap
pertandingan pasti dua predikat yang diperoleh winner or loser. seyogianya Kandidat yang menang tidak
ber euforia “overdosis” sehingga menimbulkan percikan kecemburuan dan menyulut
kemarahan kandidat yang kalah. Sangat Apresiatif ketika pidato pertama
Jokowi menanggapi kemenangan versi Quick Count, beliau mengatakan bahwa
kemenangannya merupakan kemenangan bersama dan beliau berpesan masyarakat
jangan bergembira berlebihan, cukup sujud syukur” ujarnya. Sedangkan kandidat
yang kalah haruslah bersikap legowo
dan tidak melakukan tindakan yang dapat mencoreng pemilu di KalBar
Khususnya. Jadilah Pemenang sejati, menang yang tidak membuat lawannya
merasa kecewa atau merasa kalah.
GOLPUT
BUKANLAH BENTUK “KEZALIMAN” TERHADAP DEMOKRASI
Sungguh sangat
tragis apabila Golongan Putih dianggap sebagai orang yang “zalim” terhadap
pesta demokrasi dalam pemilu. Apalagi mahasiswa/i dianggap sebagai penyumbang
Golput terbanyak.
Menurut saya
ada beberapa alasan kenapa Mahasiswa harus Golput.
1.
Jarak
TPS yang tidak memungkinkan, hal ini
yang dirasakan Mahasiswa/i lokasi yang jauh,
karena terdaftar didaerah asalnya dan memerlukan waktu yang lama membuat
keengganan mahasiswa/i untuk menggunakan hak suaranya.
2.
Kesibukan
kuliah dan organisasi, walaupun pada
saat pencoblosan ditetapkan hari libur,
segelintir mahasiswa harus mengerjakan tugas kuliah karena dikejar deadline, begitu juga mahasiswa yang
super aktif dalam organisasi sehingga tidak memiliki waktu untuk menyumbangkan
suarananya.
3.
Tidak memiliki kartu pemilih.
4.
Tidak
ada pilihan untuk memilih
Partisipasi
politik merupakan bentuk keikutsertaan
masyarakat untuk mensukseskan Pemilihan Umum. Banyak yang dapat dilakukan
masyarakat seperti ikut serta memilih/mencoblos, menyediakan TPS, ikut serta
dalam perhitungan, memberikan tanggapan atau prediksi merupakan bentuk
partisipasi dalam pemilu. Menurut saya pribadi, menilai, menentukan sikap dan
memutuskan untuk memilih atau tidak adalah merupakan bentuk partisipasi dalam
pemilu. Banyak alasan ketika seseorang harus menjadi GolPut. Salah satunya
adalah karena wajah yang di promosikan, diusung partai dan disetujui KPU tidak
mempunyai kriteria pemimpin yang diharapkan masyarakat mampu membawa KalBar
khususnya lebih baik. Masyarakat berhak menyatakan sikapnya dalam partisipasi
politik, hak untuk tidak memilih harus kita hormati, itulah sikap partisipasi
politiknya. Menurut saya sikap seperti itu lebih mulia dari pada orang yang
mengalami “kegalauan”, memilih pemimpin karena “imbalan” yang telah atau akan
diberikan kepadanya, seperti money politic yang sudah menjadi rahasia
umum.
PEMIMPIN BAGAIKAN AYAH UNTUK ANAK-ANAKNYA
saat ini
setiap kandidat sudah meramalkan kemungkinan hasil pemilu baik pengumpulan data
dari setiap saksinya di TPS atau dari lembaga Quick Count yang ada. siap atau tidak para kandidat harus berlapang
dada menerima hasil pemilu. siapa pun
yang duduk di tahta kekuasaan kelak, menjadi kewajiban untuk merangkul semua
masyarakat tanpa bersikap diskriminatif.
Dalam buku
filsafat politik karangan J.H Rapar, plato mengungkapkan:
The rulers are commanded by God first and
fore most that they be good guardians of on person so much as of their own
chidren
Artinya: Para
penguasa diamanatkan tuhan pertama-tama
dan terutama agar mereka menjadi penjaga yang baik sebaik seperti terhadap anak
mereka sendiri.
Penyelenggaran
kekuasaan yang dikehendaki oleh plato dalam negara idealnya ialah secara paternalistik, yakni para penguasa yang
bijaksana haruslah menempatkan diri
selaku ayah yang baik lagi arif yang dalam tindakannya terhadap anak-anaknya
terpadulah kasih dan ketegasan demi kebahagiaan anak-anak itu sendiri.
Memperlakukan
seperti anak sendiri, pemimpin wajib merawat, memelihara, mengasuh, membina,
mendidik, mengarahkan dan melindungi setiap warga negara dengan penuh
perhatian,penuh tanggungjawab dan kasih sayang.
saya dapat
menyimpulkan pendapat plato bahwa sebagai
pemimpin harus menjadi ujung
tombak menghadapi segala bentuk problematika ditengah masyarakat baik dalam
rangka menyelesaikan, menangkal serta
memberikan “stimulasi” agar masyarakat tidak melakukan perbuatan yang
dapat “menodai” Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
PEMIMPIN
“JAHAT” DISEBABKAN SIFAT KEBINATANGAN
Layaknya hukum
rimba, siapa yang kuat, dia yang berkuasa. Tapi sangat tragis jika kandidat
yang menang “memakan” yang kalah seperti harimau yang memakan mangsanya.
Dalam buku
yang berjudul “Kekuasaan dan Negara karangan A Rahman Zainudin” Ibnu Khaldun menjelaskan kekuasaan itu adalah
suatu hal yang alami bagi manusia karena didalamnya terdapat wujud bermasyarakat
dan dipandang dari segi asal kejadiaanya dan kemampuan argumentasinya yang
logis, manusia itu lebih dekat pada sifat kebaikan dari pada sifat kejahatan,
karena kejahatan itu hanya timbul dalam diri manusia berdasarkan
kekuatan-kekuatan kebinatangan yang terdapat dalam dirinya. Apabila dari segi
bahwa ia itu manusia, ia lebih dekat kepada kebaikan dan sifat-sifat kebaikan.
Semua Pemimpin
manusia baik, yang tidak baik karena
nafsu “hewaninya” mengalahkan hakikat manusia yang pada dasarnya baik. Sebagai
pemimpin yang baik tidak “membunuh” yang kalah dalam artian bersikap “egoisme”, Lebih memperhatikan basis yang menang dan
menganak tirikan daerah-daerah yang tidak mendukungnya. Pemimpin yang baik
Merangkul kandidat yang kalah, menjadikan partnership
untuk menyelesaikan segudang pekerja
rumah yang harus diselesaikan. Rakyat memimpikan pemimpin yang tidak hanya menjadikan spanduk visi dan misi
nya, tidak hanya menjadikan program kerja sebagai sponsor disaat pemilu, tetapi
pemimpin yang bisa membuat gerbakan baru, agar masyarakat benar-benar dapat
merasakan “kehangatan” kasih sayang seorang pemimpin.
Janganlah
menjadi pemimpin yang mengadopsi sifat “binatang” yang dapat merusak segala
aspek kehidupan masyarakat. Jadilah pemimpin yang baik, ulung menyelesaikan
berbagai problema masyarakat yang sangat
kompleksitas dan bijaksana dalam memutuskan dan bertindak.
Kekuasaan dan
kewenangan (Power and authority) yang
dititipkan kepada para penguasa haruslah dapat merepresentasikan aspirasi rakyat yang termarginalisasi oleh
berbagai kemelut kepentingan (interest).
SENI DALAM
MEMIMPIN
Seorang
pemimpin tidak hanya dituntut cakap dalam mengobral programnya, bukan hanya
dituntut pandai melaksanakan tugas berdasarkan platform
yang dibuat. Tetapi lebih dari itu,
pemimpin harus memilik gaya dan seni
dalam memimpin.
Dalam buku
filsafat politik karangan J.H Rapar plato mengatakan bahwa seni memerintah
termasuk juga seni membuat undang-undang. Namun yang terutama ialah otoritas
penuh tidaklah terletak pada undang-undang melainkan ada manusia yang memahami
seni memerintah dan yang memiliki kebijaksanaan.
Maksudnya
ialah kendati undang-undang diperlukan untuk kebutuhan praktis, namun
undang-undang itu tidak boleh mengikat, membelenggu, dan membatasi keleluasaan
gerak seseorang pemimpin untuk mengubah, menambah, ataupun membatalkan, semua undang-undang yang ada
tapi yang telah usang, karena yang paling berwenang bukanlah undang-undang itu
sendiri, melainkan penguasa yang benar-benar mengerti tentang akan seni dan ilmu
pemerintahan dan yang sungguh-sungguh arif serta bijaksana.
Debat Kandidat
CaGub KalBar yang disiarkan Metro tv beberapa waktu lalu, banyak masyarakat
yang merasa kecewa terutama masyarakat diperbatasan yang menyaksikan mujadalah
kandidat CaGub dengan sangat antusiasme. Para kandidat tidak memiliki planning yang jelas untuk mengatasi masalah
seperti infrastruktur diperbatasan yang termaginalkan, kasus pnyeludupan,
perdagangan wanita dan sebagainya yang tidak ada kesan keseriusan kandidat
untuk menyelesaikannya.
Mujadalah pada
saat itu hanya digunakan para kandidat untuk saling menjatuhkan antara yang
satu dengan yang lainnya. Tidak ada kecakapan dan seni yang dilakukan kandidat untuk meyakinkan masyarakat
untuk mengatasi masalah perbatasan khususnya yang menjadi salah satu topik mujadalah.
Terlihat para kandidat vakum dan terkesan monoton didalam menjawab dan melontarkan pandangannya. Masyarakat
KalBar seperti menyaksikan adegan para wayang yang ceritanya fiktif. para
kandidat terlihat tidak memiliki kesiapan untuk “memimpin” KalBar. Visi
dan misi baik dari incumbent maupun dari penantangnya
seperti “anekdot” karena tidak ada kejelasan alur cerita serta tidak memiliki
“arti” penting bagi masyarakat KalBar.
Masyarakat
perlu pemimpin yang memiliki seni dan strategis jitu untuk menetaskan masalah
yang tak kunjung selesai. Kandidat yang terpilih harus lebih memperhatikan
masyarakat perbatasan menjadikan daerah perbatasan sebagai garda terdepan yang selama ini terkesan seperti masyarakat
“primitif” dibandingkan masyarakat
perbatasan negara tetangga malaysia yang lebih “modern” dikarenakan mendapatkan perhatian lebih dari para pemimpinya.



0 komentar:
Posting Komentar